Percakapan, Kesaksian, dan Arsip Kebijakan Membaca 20 Buku

Apa yang terjadi setelah seorang anak menamatkan 20 buku?
Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi pintu masuk buku Merekam Sulbar Mandarras. Berawal dari kebijakan yang mewajibkan siswa SMA dan SMK sederajat di Sulawesi Barat membaca sekurang-kurangnya 20 buku selama masa studi, buku ini menelusuri bagaimana gagasan tersebut tumbuh menjadi sebuah gerakan literasi.
Melalui percakapan dengan guru, kepala sekolah, pustakawan, pegiat literasi, penulis, penerbit, komunitas, akademisi, birokrat, hingga siswa, buku ini merekam beragam pandangan tentang membaca: dari persoalan ketersediaan dan pilihan buku, kehidupan perpustakaan, ekosistem perbukuan, hingga pentingnya memberi ruang bagi pengetahuan dan karya lokal.
Percakapan-percakapan tersebut kemudian dipertemukan dengan arsip kebijakan—surat edaran, keputusan, rancangan regulasi, petunjuk teknis, dan berbagai dokumen lainnya—untuk melihat perjalanan Sulbar Mandarras dari sebuah instruksi membaca menjadi gerakan yang lebih luas.
Pada akhirnya, buku ini mengajak kita melihat bahwa 20 buku bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk. Membaca dapat membawa seseorang kepada pengetahuan, pengetahuan kepada keingintahuan, keingintahuan kepada tulisan, dan tulisan kepada lahirnya pengetahuan baru. Lebih jauh, membaca menjadi cara untuk mengenali diri, tanah tempat berpijak, dan apa yang dapat dilakukan untuk masa depan.
Sebab gerakan membaca tidak berhenti ketika buku terakhir ditutup. Ia baru dimulai ketika seseorang tergerak untuk berpikir, menulis, dan melakukan sesuatu.

Kategori: Pustaka Mandar
Dimensi: 15 x 21 cm
Pengantar: Maman Suherman
Seri: I (Pertama)
Edisi: Bahasa Indonesia
QRCBM: 62-10651-2362-092
Tahun Terbit: September 2026
Penerbit: Teluk Mandar Kreatif
Keterangan Isi: Teks hitam putih, foto berwarna
Ketebalan Buku: 510halaman
Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin

Harga: Free (versi e-book)


Tinggalkan komentar